Harga Anjlok! Petani Tomat di Desa Kare Merugi dan Kebingungan Kemana Harus Menjual Hasil Panennya
![]() |
| Hasil panen tomat desa kare |
Madiun Berita-1.id- Harga tomat anjlok, Sukatman dan tujuh petani lainnya di Dusun Suweru, Desa/Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun kebingungan dan merugi, kemana harus menjual hasil panen tomatnya.
Di ketahui harga tomat di Kabupaten Madiun sekarang ini anjlok drastis hanya Rp2.000 per kilo. Walaupun harganya sudahsangatrendah kata Sukatman, saat ini para tengkulak tidak ada yang mau membeli tomat mereka.
Beruntung hari ini, Kamis, 2 Oktober 2025, tomat milik Sukatman di beli oleh Pemkab Madiun melalui Dinas Pertanian dan Perdagangan sebanyak 5 kuintal.
"Alhamdulillah masih terselamatkan, ini di beli 5 kuintal sama dinas dengan harga Rp 4.000 per kilo, "katanya, Kamis (2/10).
Sebelumnya, harapan kami sudah tidak ada kata Sukatman, banyak tomat yang sudah dibuang karena tidak ada yang mau membeli.
"Di kebun yang belum dipetik masih ada sekitar 5 kuintal lagi, bingung mau jualnya kemana, "ujarnya.
Sukatman mengaku panen tomat musim ini tidak mendapat keuntungan sama sekali karena tak sebanding dengan biaya operasional.
Menurutnya, perawatan per pohon butuh sekitar Rp3.500 mencakup tenaga kerja, mulsa, pupuk, bibit, hingga obat-obatan.
Belum lagi kata dia kendala lainnya seperti serangan hama ulat yang bisa merusak daun tomat sehingga beresiko gagal penen.
Saya tanam sedikit, hanya dua ribu pohon, petani lainnya tanam lebih banyak jadi ruginya juga banyak. Idealnya harga tomat Rp5.000, jadi petani masih ada untung, "ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dusun (Kadus) Suweru Septian Bayuaji mengatakan jumlah petani di wilayahnya yang menanam tomat ada 8 orang. Satu orang minimal menanam 3 ribu pohon.
"Kemarin Bu Khofifah saat kunjungan sempat manyerap 1,3 ton tomat. Terus meminta Pemkab Madiun untuk ikut menyerap semaksimal mungkin semua tomat yang ada di sini tapi hari ini baru bisa terserap 5 kuintal milik Pak Sukatman, "kata Bayuaji.
Ia menambahkan, saat ini total tomat dari 8 petani yang masih ada di kebun dan harus segera dipetik ada sekitar 2 ton setengah.
"Jadi setelah dibeli Ibu Gubernur 1,3 ton dan hari ini 5 kuintal oleh pemkab, di kebun masih ada sisa sekitar 2 ton setengah yang masih bingung kemana harus jualnya, kondisi siap panen, "ujarnya.
Sedangkan tomat yang ada di kebun harus segera dipetik dan dijual karena sudah matang, kalau tidak petani bakal rugi lagi.
"Saat ini kita kasihan sama petani, yang telah membuang tomat nya, ada sekitar 3 ton tomat yang sudah tidak layak jual. Harapannya pemerintah ikut membantu karena tomat hitungan hari sudah busuk di pohon, "ungkapnya.
Diketahui, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebelumnya merespon anjloknya harga tomat ditingkat petani yang hanya Rp 2.000 per kg di Kabupaten Madiun.
Khofifah saat itu turun langsung ke kebun tomat milik petani di Dusun Suweru, Desa Kare, Kecamatan Kare dengan didampingi Wakil Bupati Madiun dr. Purnomo Hadi, Jumat, 26 September 2025.
Tak hanya mendengar keluhan petani, dalam kunjungannya, Khofifah juga memborong 1,3 ton tomat dengan harga Rp4.000 per kg.
"Harga tomat di Madiun jatuh, di tingkat petani hanya Rp2.000 per kilo. Untuk itu saya putuskan untuk menyerap hasil panen dengan harga Rp4.000 per kilo, "kata Khofifah.
Melihat kondisi tersebut, Khofifah pun mengimbau agar seluruh bupati dan wali kota di Jawa Timur ikut melakukan serapan hasil pertanian di daerahnya masing-masing saat harga tak berpihak pada petani. (red)
