BREAKING NEWS

Ketika Sampah Menumpuk, Gas Subsidi Ikut Menguap

Gambar karikatur kelangkaan Gas elpiji 3 kg
(Foto istimewa)

Ngawi, Berita-1.id 

Dalam hitungan hari, wajah Kabupaten Ngawi seperti dipaksa bercermin dua kali.

Pertama, soal label “kotor” yang datang dari penilaian pusat. Kedua, realitas di lapangan: gas elpiji 3 kilogram yang semakin sulit dicari. Kalaupun ada, harganya melonjak jauh di atas batas kewajaran.

Kebetulan? Bisa jadi.

Tapi bagi masyarakat kecil, ini bukan soal kebetulan, ini soal beban yang datang beruntun.

Di satu sisi, publik diminta peduli kebersihan.

Di sisi lain, kebutuhan dasar seperti energi rumah tangga justru terasa makin jauh dari jangkauan. Ironinya, gas subsidi yang seharusnya menjadi “penyelamat dapur rakyat” justru berubah menjadi komoditas yang sulit disentuh.

Fenomena ini memperlihatkan satu hal: persoalan daerah tak pernah berdiri sendiri. Ketika tata kelola satu sektor belum rapi, sektor lain sering ikut terdampak atau setidaknya, terasa demikian di mata masyarakat.

Media sosial pun menjadi cermin paling jujur. Keluhan soal gas melon berseliweran, menandakan keresahan yang nyata. Bukan sekadar isu sesaat, tapi akumulasi dari rasa tidak nyaman yang terus bertambah.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah ini sekadar dinamika menjelang Lebaran, atau sinyal bahwa ada yang perlu dibenahi lebih serius?

Publik tentu tidak menuntut kesempurnaan. Namun, mereka berharap satu hal yang sangat mendasar: kehadiran negara dalam bentuk pelayanan yang benar-benar terasa.

Karena bagi warga, urusan kebersihan penting. Tapi memastikan dapur tetap menyala itu jauh lebih mendesak.


Penulis: Anggota JMM 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar